Wednesday, 29 January 2014

Sinyal Digital Membawa Basuki Berkiprah di Eropa


Sudah belasan tahun terakhir Basuki (37) berkecimpung di bidang teknologi komunikasi nirkabel. Ia mendesain algoritma pemrosesan sinyal digital telepon pintar generasi keempat untuk perusahaan telekomunikasi di Swedia, salah satu negara yang menjadi ”pusat” teknologi komunikasi nirkabel di Eropa. Basuki tercatat sebagai pemegang belasan paten desain algoritma.

Salah satu contoh paten itu semisal algoritma dalam ”heterogeneous networks” untuk teknologi telepon genggam generasi keempat (4G). Dia mendesain algoritma agar telepon pintar mampu memproses sinyal yang diterima—kendati mengalami banyak interferensi (sinyal pengganggu)—sehingga tetap bisa menerima data dengan kecepatan tinggi.

Teknologi 4G, kata Basuki, memiliki banyak tantangan karena di satu sisi terdapat besarnya permintaan data berkecepatan tinggi, sementara di sisi lain sangat banyak interferensi akibat sel-sel base-station yang saling bertumpukan.

Belasan paten dicatatkan atas nama Basuki beserta tim melalui perusahaan tempatnya dulu bekerja, Ericsson AB, dan Huawei Technologies Sweden AB, tempatnya kini bekerja. Di Huawei, dia jadi spesialis senior yang memimpin tim kecil beranggotakan lima-enam peneliti multinasional yang bertugas mendesain algoritma agar telepon pintar punya performa tinggi, tetapi mampu menggunakan energi seefisien mungkin.

”Kami coba mencari teknologi, bagaimana menyelesaikan persoalan itu dalam konteks matematika, lalu dibuat modelnya. Setelah disimulasikan dan terbukti berhasil, model itu diberikan ke bagian pengembangan untuk diimplementasikan ke chipset (’otak’ telepon pintar),” kata Basuki.

Kami berbincang di sela-sela santap siang pada pertengahan Desember lalu di kawasan Ideon, kota Lund, Swedia. Ideon merupakan salah satu kawasan sains terkemuka di Skandinavia yang jadi ”markas” perusahaan- perusahaan berskala global di bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Basuki mulai berkiprah di Eropa sejak 2005. Ia mendapat beasiswa sebagai mahasiswa program doktoral bidang komunikasi nirkabel di Aalborg Universitet, Denmark. Saat itu penelitiannya didukung Nokia Siemens Networks.

Dunia industri

Selulus tahun 2008, ia tiba di persimpangan jalan, antara mengabdi di dunia akademik dan terjun ke dunia industri. Aalborg Universitet menawarinya pascadoktoral, tetapi Basuki pun berpeluang bekerja di dua perusahaan besar, Nokia di Finlandia atau Ericsson di Lund, Swedia.

Ia memilih dunia industri karena dirasakannya penuh dinamika dan memberikan peluang lebih untuk berinteraksi dengan teknologi tepat guna. Pilihannya jatuh pada Ericsson AB, Swedia. Keputusannya itu berdasarkan pertimbangan riset 4G di Ericsson AB ataupun di Swedia umumnya terbilang maju.

Selain itu, kawasan Swedia selatan (Skane) terkenal sebagai Medicon Valley. Dengan bekerja di Lund, istrinya, Dina (31), yang berlatar belakang kedokteran, pun bisa melanjutkan pendidikan dan karier. Dina menjadi staf riset di Biomedical Center sekaligus mahasiswa doktoral Departemen Kardiologi, Lunds Universitet.

Bekerja di lingkungan multinasional di Eropa membuatnya tertantang. Ia harus mampu berkomunikasi lintas budaya sekaligus terbiasa berbicara langsung ke pokok persoalan. Ini karena sistem organisasi di Eropa Utara umumnya ”datar”, tak hierarkis, sehingga komunikasinya terbuka. ”Dalam banyak hal, ini membuat kami bekerja lebih efisien,” katanya.

”Mimpi” menjadi produsen

Salah satu kunci sukses Basuki ialah tak cepat menyerah. Saat pertama kali melamar posisi doktoral di Aalborg Universitet, ia sempat ditolak. Namun, beberapa minggu kemudian ia kembali melamar di universitas yang sama. Kali ini lamarannya diterima. Ia mendapat hikmah, topik penelitian pada lamaran kedua lebih tepat ketimbang topik lamaran pertama.

Selain itu, diperlukan ketekunan dan fokus pada pekerjaan. Basuki merasa kerja keras itu terbayar saat berhasil menemukan teknologi yang akan eksis di masa depan lebih cepat dibandingkan orang lain. Apalagi saat ide itu diterapkan di telepon genggam dan digunakan jutaan orang.

”Itu kebanggaan,” kata Basuki yang tak lantas berpuas diri. ”Apa yang saya raih belum seberapa dibandingkan ribuan paten 4G yang sudah ada.”

Di sisi lain, dia mengaku ada hal yang kurang menyenangkan berkiprah di Eropa. ”Saya enggak enak karena bekerja di luar negeri,” katanya. Ini membuatnya tinggal jauh dari keluarga, terutama orangtua.

Oleh karena itu, salah satu tantangan dia adalah bagaimana bisa berkiprah di Indonesia meski hal itu relatif masih sulit karena Indonesia sekadar jadi konsumen. Ia menilai belum banyak upaya pemerintah untuk membuat Indonesia jadi lebih mandiri di sektor telekomunikasi.

Namun, hal itu tak membuatnya berdiam diri. Basuki menjajaki kemungkinan membangun pusat desain dan penelitian berskala internasional di Indonesia. Ia mengajak anggota Diaspora Indonesia lain yang berpotensi dan punya keahlian serupa untuk berkolaborasi. Ia berharap hal ini bisa terwujud.

”Indonesia itu pangsa pasarnya besar, tetapi sejauh ini hanya sebagai pengguna. Dari sisi teknologi, kita mengikuti apa yang sudah dikembangkan di luar negeri. Sebenarnya banyak orang Indonesia yang berpotensi, tetapi belum menemukan wadah,” katanya.

Kendati jauh dari Tanah Air, Basuki berusaha berkontribusi untuk Indonesia. Misalnya, saat pulang, ia menyempatkan diri memberikan kuliah umum di beberapa universitas, seperti Institut Teknologi Bandung dan Telkom University. Ia ingin membuka wawasan mahasiswa agar termotivasi untuk belajar dan bersekolah lebih tinggi, sekaligus percaya diri.

Dia juga punya ”mimpi” agar orang Indonesia yang tinggal di luar negeri dan tergabung dalam Diaspora Indonesia bisa membangun wadah jejaring global. Di jejaring ini, anggota Diaspora Indonesia bisa saling berkomunikasi, terutama mengenai potensi masing-masing.

”India dan China sudah bagus. Ini juga memungkinkan peneliti dua negara itu yang bekerja di luar negeri mudah kembali dan berkiprah di negaranya,” tutur Wakil Sekretaris Jenderal Diaspora Indonesia itu.

Semoga harapannya terwujud dan Indonesia tak lagi menjadi konsumen belaka.

—————————————————————————
Dr Ir BASUKI ENDAH PRIYANTO, MEng

♦ Lahir: Bandung, 9 Juni 1976
♦ Istri: Dokter Ihdina Sukma Dewi, MSc (31)
♦ Anak: Rayan Erik Priyanto (4,5)
♦ Pendidikan:
- PhD Wireless Communications Aalborg Universitet, Denmark, 2005-2008
- MEng Wireless Communications Nanyang Technological University, Singapura, 2000-2002
- Teknik Elektro (Cum Laude) Institut Teknologi Bandung, 1994-1998
♦ Pekerjaan:
- Senior Specialist Huawei Technologies Sweden AB,  2012-kini
- Staf Engineer Ericsson AB Sweden, 2008-2012
- External Researcher Nokia Siemens Networks ApS Denmark, 2005-2008
- Research Associate, Nanyang Technological University, Singapura, 2002-2005
- Network Engineer Schlumberger, 1999-2000

Unduh Film HD Cuma 1 Detik


Alcatel-Lucent dan British Telecom (BT) melaporkan telah berhasil mencapai kecepatan koneksi internet terkencang sebesar 1,4 terabit per detik (1 terabit per detik = 1.000.000 megabit per detik/Mbps). Angka itu disebut cukup untuk mentransfer "44 film Full HD" dalam waktu hanya satu detik.
Sebagaimana dikutip dari BBC, kedua perusahaan melakukan pengujian kecepatan jaringan di sambungan sepanjang 410 km antara menara BT di kota London dan Ipswich menggunakan kabel fiber optik dan hardware kelas komersial.

Meski belum akan dirasakan oleh konsumen dalam waktu dekat, hasil uji tersebut dipandang sebagai sebuah terobosan karena menunjukkan bahwa infrastruktur yang sudah ada mampu menunjang kecepatan yang jauh lebih tinggi tanpa memerlukan upgrade mahal.

Pihak Alcatel-Lucent mengatakan bahwa angka permintaan untuk bandwidth yang lebih besar naik sekitar 35 persen setiap tahunnya, seiring dengan popularitas layanan-layanan rakus jalur data, seperti situs streaming film Netflix.

Dengan demikian, para penyedia jasa internet (ISP) perlu menemukan cara untuk mentransfer data dengan lebih efisien.

Memang ada cara lain yang bisa menyediakan kecepatan lebih tinggi lagi, misalnya dengan teknologi laser.

Tetapi, percobaan Alcatel-Lucent dan BT ini merupakan yang pertama berhasil mencapai angka luar biasa tersebut dalam "kondisi dunia nyata". BBC menyebut hasil pengujian tersebut sebagai koneksi broadband "terkencang" yang pernah ada.

Pakai Google Glass, Diciduk FBI


Perangkat Google Glass ternyata masih mengundang kecurigaan yang bisa berujung pada kejadian tidak mengenakkan bagi si pemakai, tak terkecuali di negeri asalnya sendiri, Amerika Serikat.

Salah satu peristiwa seperti itu dialami oleh seorang pria asal Ohio, AS. Ceritanya, sebagaimana dilansir oleh Business Insider, pada 18 Januari lalu, lelaki pengguna Google Glass yang tidak disebutkan namanya tersebut sedang bermalam minggu dengan menonton film di bioskop Easton Mall, kota Colombus, AS. Film yang ditonton bersama istrinya mengisahkan sepak terjang agen rahasia CIA, berjudul Jack Ryan: Shadow Recruit.

Sekitar satu jam setelah mulai menonton, tiba-tiba pasangan itu didatangi seseorang yang menunjukkan lencana mirip petugas polisi. Orang tersebut melepas Google Glass yang dipakai di kepala si pria dan memintanya bersama sang istri agar keluar dari gedung bioskop.

"Rasanya memalukan sekali, di luar bioskop sudah ada sekitar 5-10 polisi dan petugas keamananmall," kata si pria empunya Google Glass.

Rupanya, pihak AMC yang mengelola bioskop melihat Google Glass yang dipakai pria itu dan curiga dia memakainya untuk merekam film secara diam-diam. AMC lantas memanggil pihak berwenang. Pria tersebut kemudian diinterogasi secara "sukarela" (tapi disertai ancaman) oleh orang-orang yang disebutnya sebagai "agen federal" atau FBI.

Dia berusaha menerangkan bahwa dirinya sama sekali tidak berusaha merekam film dengan kacamata pintar tersebut. "Saya terus menyuruh mereka mengakses Glass dan melihat bahwa tidak ada apa-apa, kecuali foto istri dan anjing saya," ujar si pria yang ternyata merupakan korban salah sangka itu.

Pada saat menonton film, si pria mengaku mematikan Google Glass agar tak mengganggu. Tetapi, berhubung dia memakai versi Glass yang tersambung ke frame kacamatanya sendiri (perscription glass), perangkat itu terpaksa dipakai terus agar dia bisa melihat.

Para penginterogasi tidak percaya dan malah menanyai dia macam-macam. Akhirnya, ada petugas yang datang membawa laptop. Agen FBI tersebut kemudian mengunduh semua file yang ada dalam Google Glass dan menelusurinya satu per satu.

Selang lima menit kemudian, para petugas menyadari kesalahan mereka. Agen-agen yang mengaku diutus oleh "asosiasi film" ini memberikan empat tiket bioskop gratis ke sang pemilik Google Glass, tetapi pria tersebut tetap gusar karena tidak mendengar permintaan maaf.

"Dia cuma bilang dihubungi AMC, lalu dia mengontak FBI… Saya sebenarnya bisa terima kalau dia bilang, 'Mohon maaf atas kesalahan ini'. Empat tiket gratis itu justru membikin saya tersinggung," gerutu si pria pemilik Google Glass.

Adapun Google Glass sebenarnya belum dijual bebas hingga saat ini. Pria tersebut adalah salah satu peserta program Glass Explorer yang berperan sebagai penguji versi beta dari Glass. 

Ini bukan kali pertama pemakai Google Glass bermasalah karena diduga melanggar hukum. Minggu lalu, seorang wanita yang ditilang karena memakai Google Glass saat berkendara dibawa ke meja hijau. Hakim kemudian memutuskan bahwa dia tidak bersalah.